Sabtu, 02 Oktober 2010

mikroorganisme pada makanan kaleng

Aspek Mikrobiologi  Makanan Kaleng   Pendahuluan  Mikroorganisme tersebar luas di alam dan sebagai akibatnya produk  pangan jarang sekali yang steril, tetapi umumnya tercemar oleh berbagai jenis  mikroorganisme. Pertumbuhan mikroorganisme dalam bahan pangan dapat  mengakibatkan perubahan fisik atau kimia yang tidak diinginkan, sehingga bahan  pangan tersebut tidak layak dikonsumsi. Pengawetan pangan merupakan usaha  untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme pada bahan pangan.  Untuk dapat tumbuh dan berfungsi secara normal, mikroorganisme membutuhkan  sumber energi, sumber nitrogen, vitamin, mineral dan faktor pertumbuhan  lainnya. Komponen-komponen tersebut diperoleh mikroba dari bahan  pangan, sehingga makanan menjadi rusak. Untuk pertumbuhannya, kapang  mempunyai kebutuhan zat gizi yang paling minimal, diikuti dengan khamir,  kemudian bakteri gram negatif, sedangkan bakteri gram positif mempunyai kebutuhan  zat gizi yang paling lengkap. Di samping komponen zat gizi yang diperlukan  tersebut, kondisi lingkungan yang sesuai, seperti keberadaan air bebas  (aktivitas air), pH, oksigen, dan suhu juga mempengaruhi pertumbuhan mikroba.  Apabila kondisi lingkungan tidak sesuai, maka mikroba pun tidak dapat hidup.  Di dalam proses pasteurisasi atau sterilisasi, tujuan utama yang diinginkan  adalah untuk membunuh mikroba yang tidak diinginkan, terutama mikroba pembusuk  dan patogen. Agar proses pemanasan dapat menjamin mikroba target  dibunuh, maka perlu pengetahuan tentang sifat-sifat mikroorganisme dan faktorfaktor  yang mempengaruhi pertumbuhannya. Mikroba yang berbeda akan tumbuh  di dalam produk pangan yang berbeda dari tingkat keasaman, kandungan  Topik 6. Aspek Mikrobiologi Makanan Kaleng  1  air, atau komposisi zat gizinya. Karena mikroba mempunyai toleransi yang berbeda  terhadap keberadaan oksigen, maka terdapat mikroba yang dapat tumbuh  pada produk pangan yang dikemas dalam kondisi vakum (anaerobik) atau terdapat  oksigen (aerobik). Ketahanan panas mikroba pun berbeda-beda, sehingga  kebutuhan suhu dan waktu pemanasan untuk membunuhnya akan berbeda  untuk jenis mikroba yang berbeda.  Keberadaan mikroorganisme pembusuk atau patogen dalam makanan  kaleng tidak diinginkan, sehingga pembunuhan atau inaktivasi mikroorganisme  menjadi target utama dalam proses pasteurisasi atau sterilisasi. Oleh karena itu,  menjadi sangat penting memahami jenis dan karakteristik mikroba, terutama dari  kelompok mikroba penyebab kebusukan dan patogen yang berpotensi tumbuh  dalam makanan kaleng. Dalam pengolahan pangan, biasanya jenis mikroba yang  menjadi perhatian utama adalah kelompok kapang, khamir dan bakteri.  Kerusakan makanan kaleng dapat disebabkan oleh mikroba pembusuk atau  mikroba patogen. Kerusakan makanan kaleng yang diawetkan dengan pemanasan  dapat disebabkan oleh adanya sisa mikroorganisme yang masih bertahan  hidup setelah proses pemanasan, atau karena masuknya mikroba dari luar melalui  bagian kaleng yang bocor setelah proses pemanasan. Penyebab yang pertama  menunjukkan bahwa makanan kaleng tersebut tidak cukup proses pemanasannya  (under process). Jenis mikroba yang mengkontaminasi produk yang mengalami  under process lebih mudah ditentukan berdasarkan pada informasi kondisi  proses termal yang dilakukan dan jenis produk pangan yang diproses, karena  mikroba memiliki sifat ketahanan panas dan aktivitas biologis tertentu. Sedangkan  kerusakan makanan kaleng yang disebabkan oleh kebocoran kaleng sulit  ditentukan disebabkan mikroba yang mengkontaminasi dapat bervariasi.  Pembahasan pada Topik 6.1 ini terutama difokuskan pada pembahasan  jenis-jenis mikroba yang penting dalam makanan kaleng serta kerusakan-kerusakan  pada makanan kaleng atau produk yang diproses dengan panas yang disebabkan  oleh mikroba. Struktur dan karakteristik dari mikroba (kapang, khamir  dan bakteri) tidak menjadi pembahasan utama dari Topik ini. Bagi yang menginginkan  informasi yang lebih lengkap tentang hal tersebut dapat merujuk pada  buku-buku mikrobiologi pangan.  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba  Pertumbuhan mikroba dipengaruhi oleh lingkungannya. Di antara faktorfaktor  yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme adalah air, oksigen,  suhu dan nilai pH (keasaman).  Air  Semua organisme membutuhkan air untuk kehidupannya. Air berperan  dalam reaksi metabolik dalam sel dan merupakan alat pengangkut zat gizi ke  dalam sel atau hasil metabolit ke luar sel. Semua kegiatan ini membutuhkan air  dalam bentuk cair dan apabila air tersebut mengalami kristalisasi dan membentuk  es atau terikat secara kimiawi dalam larutan gula atau garam, maka air  tersebut tidak dapat digunakan oleh mikroorganisme.  Topik 6. Aspek Mikrobiologi Makanan Kaleng  2  Pengaruh air terhadap pertumbuhan mikroorganisme dinyatakan sebagai  aktivitas air (Aw), yaitu jumlah air bebas yang tersedia dan dapat digunakan  untuk pertumbuhan mikroorganisme dalam bahan makanan. Jenis mikroorganisme  yang berbeda membutuhkan jumlah air yang berbeda untuk pertumbuhannya.  Kebanyakan bakteri dapat hidup pada Aw  >0.90, sedangkan kebanyakan  kapang dan khamir berturut-turut dapat hidup pada Aw>0.70 dan Aw>  0.80. Pada Aw yang rendah, mikroorganisme akan mati karena sel-sel di mikroorganisme  akan berdifusi ke luar sebagai akibat terjadinya proses kesetimbangan  osmotik. Dengan kata lain, selama konsentrasi solut di luar sel lebih besar  dibanding di dalam sel, maka migrasi air akan terjadi untuk menyeimbangkan  konsentrasi. Migrasi air dari dalam sel menyebabkan sel mati disebabkan oleh  dehidrasi.  Oksigen  Beberapa mikroorganisme memerlukan oksigen untuk pertumbuhannya,  yang disebut mikroorganisme aerobik. Contoh mikroorganisme aerobik adalah  kapang. Untuk beberapa mikroorganisme lainnya, oksigen bersifat racun. Mikroorganisme  ini dinamakan anaerob, seperti Clostridium botulinum. Kebanyakan  mikroorganisme dapat tumbuh pada kondisi tanpa dan dengan adanya oksigen.  Kelompok ini disebut fakultatif anaerobik, contohnya Bacillus, kebanyakan khamir  dan bakteri lainnya.  Suhu  Suhu adalah salah satu faktor lingkungan terpenting yang mempengaruhi  pertumbuhan dan kehidupan mikroorganisme. Berdasarkan suhu optimum pertumbuhannya,  mikroorganisme dapat dibedakan atas tiga grup, yaitu:  (a) Psikrotropik: suhu optimum 14-20oC, tetapi dapat tumbuh lambat pada suhu  refrigerator (4oC). Kelompok mikroorganisme ini yang penting pada makanan  kaleng adalah Clostridium botulinum tipe E dan strain non-proteolitik  tipe B dan F.  (b) Mesofilik: suhu optimum 30-37oC. Suhu ini merupakan suhu normal gudang.  Clostridium botulinum merupakan salah satu contoh mikroorganisme  kelompok ini.  (c) Termofilik: suhu optimum kebanyakan termofilik pada suhu 45-60oC. Jika  spora bakteri tidak dapat bergerminasi dan tidak tumbuh di bawah suhu  50oC, bakteri tersebut disebut obligat termofil. Jika tumbuh pada kisaran  suhu 50-66oC atau pada suhu yang lebih rendah (38oC), bakteri ini disebut  fakultatif termofilik. Beberapa obligat termofil dapat tumbuh pada suhu 77oC  dan bakteri ini sangat resisten terhadap pemanasan (121oC selama 60  menit). Bakteri termofilik tidak memproduksi toksin selama pertumbuhannya  pada makanan. Contoh bakteri dari kelompok ini adalah Bacillus stearothermophilus.  Nilai pH  Setiap organisme mempunyai kisaran nilai pH dimana pertumbuhan masih  memungkinkan dan masing-masing biasanya mempunyai pH optimum. Keba-  Topik 6. Aspek Mikrobiologi Makanan Kaleng  3  nyakan organisme tumbuh pada pH sekitar 7.0 (6.6-7.5), dan hanya beberapa  yang dapat tumbuh di bawah pH 4.0. Bakteri mempunyai kisaran pH pertumbuhan  lebih sempit dibandingkan dengan kapang dan khamir. Sebagai contoh,  kebanyakan bakteri tidak dapat tumbuh pada pH di bawah 4.0 dan di atas 8.0,  sedangkan kapang mempunyai kisaran pH pertumbuhan 1.5-11.0, khamir mempunyai  kisaran pH pertumbuhan 1.5-8.5. Oleh karena itu, makanan yang mempunyai  pH lebih rendah akan semakin awet karena semakin sedikit jenis mikroorganisme  yang dapat tumbuh.  Nilai pH atau keasaman makanan dipengaruhi oleh asam yang terdapat  pada makanan tersebut. Ada di dalam makanan mungkin secara alamiah, seperti  buah-buahan asam, atau terbentuk selama fermentasi, misalnya yoghurt, pikel,  sayur asin, dan sebagainya. Nilai pH minimum untuk pertumbuhan mikroorganisme  kadang-kadang dipengaruhi oleh jenis asam yang terdapat dalam  makanan tersebut. Sebagai contoh, beberapa Laktobasili dapat tumbuh pada pH  yang lebih rendah jika asam yang terdapat pada makanan tersebut berupa asam  asetat atau asam laktat.  Mikroba Penyebab Penyakit  Kebanyakan penyakit pada manusia, hewan dan tanaman disebabkan oleh  mikroorganisme. Penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme dapat disebabkan  oleh mikroorganismenya sendiri atau oleh senyawa yang dihasilkan oleh  mikroorganisme.  Hanya beberapa mikroorganisme yang menyebabkan penyakit pada manusia.  Penyebaran mikroorganisme penyebab penyakit dapat terjadi melalui manusia,  hewan ataupun makanan. Mikroorganisme penyebab penyakit melalui  makanan di antaranya adalah Salmonella spp, Listeria monocytogenes, Vibrio  parahaemolyticus, Bacillus cereus, Escherchia coli , Campylobacter, Stapylococcus  aureus, Clostridium perfringens, dan Clostridium botulinum.  Mikroorganisme patogen yang berada pada makanan umumnya berasal  dari tanah atau air. Sayuran yang dekat dengan tanah, seperti bayam dan daundaunan  lain mengandung bakteri dan spora bakteri dalam jumlah banyak. Asparagus  dan jamur selalu terkontaminasi dengan spora bakteri.  Bakteri C. botulinum merupakan mikroorganisme yang sering menjadi  target proses termal, terutama untuk produk pangan kelompok berasam rendah.  Bakteri ini sangat berbahaya, karena dapat memproduksi toksin yang mematikan,  yaitu botulin (menyebabkan botulism) dan terdapat pada tanah atau air  sehingga bahan pangan dengan mudah terkontaminasi. Botulin merupakan  toksin yang sangat kuat, satu gram dapat membunuh 300 ribu orang. Toksinnya  termasuk neurotoksin, yaitu menyerang sistem syaraf dan dapat menyebabkan  kelumpuhan. Tanda-tanda keracunan botulin adalah tenggorokan menjadi kaku,  penglihatan ganda, otot kejang, serta dapat mengakibatkan kematian akibat  penderita tidak bisa bernapas.  Beberapa strain C. botulinum bersifat proteolitik dan menyebabkan putrefaktif,  yaitu membentuk bau karena degradasi protein. Spora C. botulinum akan  bergerminasi dengan baik pada pH di atas 4.8, sehingga dapat tumbuh baik pada  Topik 6. Aspek Mikrobiologi Makanan Kaleng  4  produk pangan berasam rendah. Dalam prakteknya, nilai pH 4.6 digunakan  sebagai batas pH pembeda antara makanan asam dan makanan asam rendah.  Spora C. botulinum dapat ditemukan pada makanan asam dan asam rendah,  akan tetapi pada makanan asam spora tersebut tidak dapat bergerminasi.  Pemanasan sedang dapat membunuh bakteri non-pembentuk spora atau  sel vegetatif pada makanan asam atau asam rendah. Pada makanan asam  rendah, penggunaan panas harus cukup untuk membunuh spora C. botulinum,  sehingga makanan ini harus dipanaskan dengan menggunakan tekanan.  Bakteri C. botulinum merupakan kelompok bakteri mesofilik yang sangat  penting dalam makanan kaleng . Hal ini karena kondisi makanan kaleng yang  vakum sangat cocok bagi pertumbuhan bakteri C. Botulinum, karena sifatnya  yang anaerobik (hidup baik pada kondisi tidak ada oksigen). Perhatian utama  diberikan untuk makanan kaleng berasam rendah (pH>4.6) dan memiliki  aktivitas air tinggi (aw> 0.9), karena C. botulinum tumbuh baik pada kondisi pH  dan Aw tersebut. C. botulinum tumbuh baik pada suhu 30-37oC (kondisi penyimpanan  ruang atau gudang), walaupun dapat tumbuh pada suhu 10 dan 38oC.  Berdasarkan peraturan FDA, makanan dengan Aw lebih besar dari 0.85 dan pH  lebih besar dari 4.6 dikelompokkan sebagai makanan berasam rendah, dan  apabila akan dikalengkan (kondisi vakum tercapai) dan disimpan pada suhu  ruang, maka produk pangan tersebut harus diproses dengan sterilisasi.  Dalam hal proses sterilisasi tidak dapat diterapkan pada makanan berasam  rendah, maka penghambatan C. botulinum dapat dilakukan dengan memanipulasi  kondisi pH dengan proses pengasaman, penurunan aktivitas air atau penambahan  garam. Germinasi spora C. botulinum dapat dihambat dengan proses  pengasaman dimana pH produk pangan sehingga berada di bawah 4.6. Karena  dalam makanan asam hanya sel vegetatif yang perlu dibunuh, maka penggunaan  suhu seperti untuk mendidihkan air, atau pengemasan dalam keadaan panas  (hot filling) dapat dilakukan.  Germinasi spora C. botulinum dapat dihambat dengan menurunkan Aw di  bawah 0.93. FDA mensyaratkan Aw<0.85 untuk mengeluarkan produk pangan  dari kelompok berasam rendah. Apabila makanan yang Aw-nya diturunkan  sampai pada Aw dimana spora tidak dapat bergerminasi, maka pemanasan hanya  ditujukan untuk membunuh sel vegetatif. Penurunan Aw berguna bagi makanan  yang kualitasnya sensitif terhadap pemanasan, misalnya keju oles, peanut butter,  madu, sirup, jam, jelly dan produk coklat. Jika Aw makanan yang tidak  mengandung daging diturunkan menjadi 0.85 atau lebih rendah, maka tidak  memerlukan proses pemanasan yang digunakan untuk membunuh spora C.  botulinum.  Pada Aw yang rendah, bakteri akan mati karena sel-sel mikroorganisme  akan berdifusi ke luar sebagai akibat terjadinya proses kesetimbangan osmotik.  Penurunan Aw sampai 0.93 dikombinasikan dengan pasteurisasi menghasilkan  produk steril komersial. Akan tetapi praktek ini harus ditunjang oleh prosedur  pengukuran Aw yang akurat. Selain itu, faktor kritis dalam pengaturan Aw sebagai  salah satu metode pengawetan adalah ingredien yang digunakan untuk menurunkan  Aw tersebut serta jumlahnya dalam produk akhir. Oleh karena itu, pengawasan  harus dilakukan sejak persiapan produk dan pencapaian suhu yang  Topik 6. Aspek Mikrobiologi Makanan Kaleng  5  diterapkan pada proses sterilisasi produk akhir. Selain itu, pengujian Aw contoh  produk akhir harus dilakukan secara reguler untuk menjamin bahwa penurunan  Aw telah mencapai nilai yang diinginkan.  Germinasi spora C. botulinum dapat juga dihambat dengan penggunaan  garam, terutama pada produk daging dan ikan kuring yang menggunakan garam  nitrat/nitrit selain NaCl. Proses penggaraman adalah untuk meningkatkan  konsentrasi solut di luar sel sehingga lebih besar dibanding di dalam sel. Adanya  konsentrasi solut yang lebih tinggi di luar sel mengakibatkan migrasi air dari  dalam sel untuk menyeimbangkan konsentrasi. Migrasi air dari dalam sel menyebabkan  sel bakteri mati disebabkan oleh dehidrasi. Beberapa strain C. botulinum  mampu tumbuh pada kadar garam 7%, akan tetapi strain ini terhambat pada  kadar garam 10% yang setara dengan aw 0.93. Walaupun dapat tumbuh pada  kadar garam 7%, tetapi C. botulinum tidak memproduksi toksin.  Mikroba Penyebab Kebusukan Makanan Kaleng  Kebusukan makanan kaleng dapat disebabkan oleh kapang, khamir dan  bakteri. Tanda-tanda kebusukan makanan kaleng oleh mikroorganisme dapat dilihat  dari (a) penampakan abnormal dari kaleng (kembung, basah atau label yang luntur),  (b) penampakan produk yang tidak normal serta bau yang menyimpang; (c) produk  hancur dan pucat; dan (d) keruh atau tanda-tanda abnormal lain pada produk cair.  Dari ketiga jenis mikroba tersebut, bakteri merupakan penyebab kerusakan yang  utama.  Kerusakan oleh kapang  Kapang mempunyai kisaran pH pertumbuhan yang luas, yaitu 1.5-11.0.  Kebanyakan kapang dapat hidup pada aw> 0.70. Kebusukan makanan kaleng  yang disebabkan oleh kapang sangat jarang terjadi, tetapi mungkin saja terjadi.  Kebanyakan kapang tidak tahan panas sehingga adanya kapang pada makanan  kaleng disebabkan oleh kurangnya pemanasan (under process) atau karena  terjadi kontaminasi setelah proses. Kapang memerlukan oksigen untuk tumbuh  sehingga pertumbuhan pada kaleng hanya mungkin terjadi apabila kaleng bocor.  Kapang lebih tahan asam, sehingga kapang terutama membusukkan makanan  asam, seperti buah-buahan asam dan minuman asam. Kapang seperti Bysochamys  fulva, Talaromyces flavus, Neosartorya fischeri dan lain-lain telah diketahui sebagai  penyebab kebusukan minuman sari buah kaleng dan produk-produk yang mengandung  buah. Spora kapang-kapang ini ternyata mampu bertahan pada pemanasan  yang digunakan untuk mengawetkan produk tersebut. Spora kapang ini tahan terhadap  pemanasan selama 1 menit pada 92oC dalam kondisi asam atau pada makanan  yang diasamkan. Akan tetapi untuk mencapai konsistensi yang seperti ini, kapang  tersebut memerlukan waktu untuk membentuk spora, sehingga sanitasi sehari-hari  terhadap peralatan sangat penting untuk mencegah pertumbuhan kapang ini dan  pembentukan sporanya. Pada umumnya kapang yang tumbuh pada makanan yang  diolah dengan panas tidak menyebabkan penyakit pada manusia.  Topik 6. Aspek Mikrobiologi Makanan Kaleng  6  Kerusakan oleh khamir  Khamir mempunyai kisaran pH pertumbuhan 1.5-8.5. Namun kebanyakan  khamir lebih cocok tumbuh pada kondisi asam, yaitu pada pH 4-4.5, sehingga  kerusakan oleh khamir lebih mungkin terjadi pada produk-produk asam. Kebanyakan  khamir dapat hidup pada aw>0.80. Suhu lingkungan yang optimum untuk pertumbuhan  khamir adalah 25-30oC dan suhu maksimum 35-47oC. Beberapa khamir dapat  tumbuh pada suhu 0oC atau lebih rendah. Khamir tumbuh baik pada kondisi aerobik,  tetapi khamir fermentatif dapat tumbuh secara anaerobik meskipun lambat.  Khamir hanya sedikit resisten terhadap pemanasan, dimana kebanyakan khamir  dapat terbunuh pada suhu 77oC. Oleh karena itu, khamir dapat dengan mudah  dibunuh dengan suhu pasteurisasi. Jika makanan kaleng busuk karena pertumbuhan  khamir, maka dapat diduga pemanasan makanan tersebut tidak cukup atau kaleng  telah bocor. Pada umumnya kebusukan karena khamir disertai dengan pembentukan  alkohol dan gas CO2 yang menyebabkan kaleng menjadi kembung. Khamir dapat  membusukkan buah kaleng, jam dan jelly serta dapat menggembungkan kaleng  karena produksi CO2. Seperti halnya kapang, khamir yang tumbuh pada makanan  yang diolah dengan pemanasan tidak menyebabkan penyakit pada manusia.  Kerusakan oleh bakteri  Kebanyakan bakteri dapat hidup pada aw  >0.90, sehingga kerusakan oleh  bakteri terutama terjadi pada produk-produk yang berkadar air tinggi. Beberapa  bakteri memerlukan oksigen untuk pertumbuhannya, yang disebut bakteri aerobik.  Untuk beberapa bakteri lainnya, oksigen bersifat racun. Bakteri ini dinamakan  anaerob. Contoh bakteri yang bersifat anaerobik adalah Clostridium. Ada juga bakteri  yang dapat tumbuh pada kondisi tanpa dan dengan adanya oksigen. Kelompok ini  disebut fakultatif anaerobik, contohnya Bacillus. Tabel 1 memperlihatkan beberapa  jenis bakteri pembentuk spora yang dapat menyebabkan kerusakan makanan berdasarkan  suhu pertumbuhan dan tingkat keasaman bahan pangan.  Tabel 1. Bakteri pembentu spora yang berperan dalam kerusakan makanan  Tingkat Keasamanan Pangan Kelompok bakteri  Asam (3.7<4.5 Asam Rendah (pH≥4.5  Termofilik (35-55oC)  B. coagulans  S thermophilus  C. thermosaccharolyticum  C. nigrificans  B. stearothermophilus  Mesofilik (10-40oC)  L. bulgaricus  C. butyricum  C. pasteurianum  B. mascerans  C. botulinum (A dan B)  C. sporogenes  C. licheniformis  B. subtilis  Psikrofilik (<5 – 35oC)  B. polymixa  Pseudomonas  Micrococcus  C. botulinum E  S. aureus  Suhu merupakan salah satu faktor lingkungan terpenting yang mempengaruhi  pertumbuhan dan kehidupan bakteri. Berdasarkan suhu optimum pertumbuhannya,  bakteri dapat dibedakan atas tiga grup, yaitu:  Topik 6. Aspek Mikrobiologi Makanan Kaleng  7  1. Psikrotropik: suhu optimum 14-20oC, tetapi dapat tumbuh lambat pada  suhu refrigerator (4oC). Kelompok bakteri psikotropik yang penting pada makanan  kaleng adalah Clostridium botulinum tipe E dan strain non-proteolitik  tipe B dan F.  2. Mesofilik: suhu optimum 30-37oC. Suhu ini merupakan suhu normal  gudang. Clostridium botulinum merupakan salah satu contoh mikroorganisme  kelompok ini.  3. Termofilik: suhu optimum kebanyakan termofilik adalah 45-60oC. Jika spora  bakteri tidak dapat bergerminasi dan tidak tumbuh di bawah suhu 50oC,  bakteri tersebut disebut obligat termofil. Jika tumbuh pada kisaran suhu 50-  66oC atau pada suhu yang lebih rendah (38oC), bakteri ini disebut fakultatif  termofilik. Beberapa obligat termofil dapat tumbuh pada suhu 77oC dan  bakteri ini sangat resisten terhadap pemanasan (121oC selama 60 menit).  Bakteri termofilik tidak memproduksi toksin selama pertumbuhannya pada  makanan. Contoh bakteri dari kelompok ini adalah Bacillus stearothermophilus.  Pertumbuhan bakteri ditentukan oleh kondisi pH lingkungannya. Bakteri  mempunyai kisaran pH pertumbuhan lebih sempit dibandingkan dengan kapang  dan khamir, yaitu antara 4.0-8.0. Kebanyakan bakteri tidak dapat tumbuh pada  pH di bawah 4.0 dan di atas 8.0. Makanan yang mempunyai pH <4.0 akan  semakin awet karena praktis bakteri tidak dapat tumbuh.  Nilai pH atau keasaman makanan dipengaruhi oleh asam yang terdapat  pada makanan tersebut. Keasaman ada di dalam makanan dapat terjadi secara  alamiah, misalnya pada buah-buahan asam; atau terbentuk selama fermentasi,  misalnya yoghurt, pikel, sayur asin, dan sebagainya. Nilai pH minimum untuk  pertumbuhan mikroorganisme kadang-kadang dipengaruhi oleh jenis asam yang  terdapat dalam makanan tersebut. Sebagai contoh, beberapa Laktobasili dapat  tumbuh pada pH yang lebih rendah jika asam yang terdapat pada makanan  tersebut berupa asam asetat atau asam laktat.  Bakteri dapat berbentuk sel vegetatif atau sel sporanya. Pada umumnya sel  vegetatif bakteri lebih sensitif terhadap panas dibanding sel sporanya, sehingga sel  vegetatif bakteri lebih mudah dihancurkan dibandingkan sel sporanya. Sel vegetatif  bakteri dapat dihancurkan dengan proses pasteurisasi, sedangkan sel spora umumnya  dapat dihancurkan dengan proses sterilisasi.  Pembentukan spora bakteri adalah salah satu tahap istirahat dalam siklus kehidupan  bakteri. Spora bakteri adalah struktur tahan terhadap keadaan lingkungan  yang ekstrim, misalnya keadaan kering, pemanasan, keadaan asam, dsb. Beberapa  spora bakteri tahan pada suhu air mendidih (100oC) selama 16 jam. Spora yang  tahan panas juga tahan terhadap perlakuan kimia. Beberapa spora bakteri tahan  lebih dari tiga jam dalam larutan disinfektan yang biasa digunakan di industri pangan.  Bakteri yang tidak membentuk spora atau sel vegetatif dengan mudah dapat diinaktivasi  dengan sanitiser.  Kebanyakan bakteri yang tumbuh pada makanan kaleng akan membentuk  gas, kecuali bakteri non-pembentuk spora penyebab flat-sour (busuk asam,  tanpa memproduksi gas). Indikator yang jelas kebusukan makanan kaleng ada-  Topik 6. Aspek Mikrobiologi Makanan Kaleng  8  lah kembungnya kaleng pada satu sisi atau kedua sisi. Hal ini merupakan petunjuk  bahwa makanan tersebut telah mengalami kebusukan karena pertumbuhan  bakteri pembentuk gas. Penampakan dan bau makanan juga merupakan petunjuk  kebusukan. Jika produk hancur atau sirup atau larutan garam yang seharusnya  bening telah menjadi keruh, keadaan ini merupakan petunjuk telah terjadi  kebusukan.  Jenis-jenis bakteri yang dapat menyebabkan kerusakan makanan kaleng  adalah sebagai berikut:  (1) Bakteri termofilik  Bakteri termofilik, seperti Bacillus stearothermophilus menyebabkan busuk  asam (flat sour) pada makanan kaleng berasam rendah dan B. coagulans pada  makanan kaleng asam. Bakteri termofil lainnya, yaitu Clostridium thermosaccharolyticum  menyebabkan penggembungan kaleng karena memproduksi CO2 dan  H2. Kebusukan sulfida disebabkan oleh Clostridium nigridicans.  Pada umumnya semakin tinggi suhu pertumbuhan bakteri, resistensi terhadap  pemanasan semakin tinggi. Dengan demikian bakteri termofil lebih resisten  terhadap pemanasan daripada bakteri mesofil. Pemanasan yang digunakan untuk  membunuh spora mesofil mungkin saja tidak cukup untuk mencegah terjadinya  kebusukan oleh spora termofil, kecuali jika makanan tersebut disimpan pada  suhu di bawah termofil. Untuk produk-produk makanan, seperti kacang polong,  jagung, makanan bayi dan daging yang beresiko busuk karena termofil, para  pengolah makanan harus ekstra hati-hati dalam mencegah terjadinya kebusukan  karena germinasi dan pertumbuhan spora termofil. Bahan-bahan yang digunakan  seperti gula, tepung dan rempah-rempah harus terbebas dari spora termofil.  Bakteri termofil juga dapat tumbuh pada peralatan yang kontak langsung  dengan makanan, sehingga makanan harus dipertahankan pada suhu 77oC atau  lebih tinggi lagi untuk mencegah pertumbuhan termofil. Selain itu, produk harus  segera didinginkan sampai suhu di bawah 41oC setelah sterilisasi dan menyimpan  produk ini di bawah suhu 35oC.  Bacillus stearothermophilus, B. thermoacidurans, dan C. thermosaccarolyticum  merupakan anggota kelompok bakteri termofilik (50-55oC) yang lebih tahan  panas dibanding C. botulinum. Dalam proses pengalengan, bakteri ini tidak  menjadi target proses, karena suhu penyimpanan makanan kaleng umumnya di  bawah suhu 30oC.  (2) Bakteri mesofilik pembentuk spora  Spesies Clostridium yang memfermentasi gula, misalnya C. Pasteurianum  dan C. Butyricum memproduksi asam butirat, CO2 dan H2 dan menyebabkan  penggembungan kaleng. Bakteri ini dapat ditemukan pada makanan kaleng asam  seperti tomat, nenas dan buah pir. Spesies yang lain, seperti C. sporogenes, C.  putrefaciens dan C. botulinum menyebabkan kebusukan sulfida dan penggembungan  kaleng. Bakteri ini dapat membusukkan makanan kaleng asam rendah,  seperti jagung, daging, daging unggas dan ikan.  Topik 6. Aspek Mikrobiologi Makanan Kaleng  9  Resistensi spora Bacillus mesofil tidak sebesar spora termofilnya. B. subtilis,  B. mesenteriicus, B. polymixa dan B. macerans telah dilaporkan tumbuh pada  makanan kaleng asam rendah. Keberadaan bakteri ini pada makanan kaleng  menunjukkan kurangnya proses pemanasan atau telah terjadi kebocoran kaleng.  (3) Bakteri non-pembentuk spora  Jika bakteri non-pembentuk spora ditemukan pada makanan kaleng, hal ini  menunjukkan bahwa makanan tersebut diolah dengan pemanasan yang sangat  ringan atau telah terjadi kebocoran kaleng. Bakteri yang termasuk dalam kelompok  ini adalah mikrokoki dan bakteri asam laktat. Pada susu kental manis, pertumbuhan  Micrococcus dapat menyebabkan susu menjadi lebih kental.  Kebusukan makanan kaleng oleh bakteri dapat disebabkan oleh salah satu  penyebab di bawah ini:  (a) Incipient spoilage  Makanan yang telah dimasukkan ke dalam kaleng sering kali dibiarkan  terlalu lama sebelum disterilisasi. Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya  pertumbuhan bakteri yang terdapat pada makanan dan menyebabkan dimulainya  kebusukan. Kehilangan vakum dapat menyebabkan tekanan yang tinggi pada  kaleng selama sterilisasi dan dapat menyebabkan kaleng kebocoran kaleng.  Beberapa kaleng bahkan dapat pecah selama sterilisasi.  (b) Kontaminasi setelah pengolahan  Kontaminasi setelah pengolahan terjadi karena adanya kebocoran kaleng  yang disebabkan oleh penutupan yang kurang sempurna, kerusakan kaleng atau  air pendingin yang terkontaminasi dalam jumlah besar. Berbagai jenis mikroorganisme,  tidak hanya yang tahan panas, dapat ditemukan dalam kaleng jika  kaleng mengalami kebocoran.  (c) Kurang cukup pemanasan (under process)  Pemanasan untuk makanan kaleng seharusnya dapat membunuh semua  mikroorganisme penyebab penyakit dan pembusuk. Pemanasan yang tidak cukup  dapat disebabkan oleh (a) tidak diikutinya waktu atau suhu yang telah ditetapkan  atau tidak ditentukannya suhu dan waktu pemanasan dengan baik; dan (b) kerusakan  mekanik atau kesalahan manusia.  (d) Kerusakan termofilik  Proses sterilisasi makanan kaleng umumnya tidak membunuh bakteri  termofilik (lihat pembahasan di atas). Apabila proses pendinginan setelah proses  sterilisasi terlalu lambat atau produk disimpan pada suhu penyimpanan di atas  normal dimana bakteri termofilik dapat tumbuh, maka makanan kaleng dapat  rusak oleh bakteri termofilik.  Topik 6. Aspek Mikrobiologi Makanan Kaleng  10  Indikasi Kerusakan Makanan Kaleng  Berikut ini adalah beberapa indikasi kerusakan makanan kaleng yang disebabkan  oleh kerusakan mikrobiologis:  Flat Sour. Apabila permukaan kaleng tetap datar dan tidak mengalami  kerusakan apapun, tetapi produk di dalam kaleng tersebut sudah rusak dan  berbau asam yang menusuk. Kerusakan ini disebabkan oleh aktivitas spora bakteri  tahan panas yang tidak terhancurkan selama proses sterilisasi.  Flipper. Apabila dilihat secara sekilas, kaleng terlihat norrnal tanpa kerusakan.  Tetapi bila salah satu ujung kaleng ditekan, maka ujung yang lainnya  akan cembung.  Springer. Apabila Salah satu ujung kaleng tampak rata dan normal,  sedangkan ujung yang lainnya tampak cembung permanen. Bila bagian yang  cembung ini ditekan, maka bagian ujung yang masih rata akan tampak cembung.  Swell. Apabila Kedua ujung kaleng sudah terlihat cembung akibat adanya  bakteri pembentuk gas. Swell (cembung) dibedakan menjadi soft swell yang  lunak dan masih bisa ditekan sedikit dengan jari, serta hard swell yang keras dan  tidak bisa ditekan ke dalam.  Rangkuman  1. Kerusakan makanan kaleng dapat disebabkan oleh kapang, khamir dan  bakteri. Dari ketiga mikroba tersebut, kerusakan oleh bakteri lebih dominan.  Jenis bakteri yang dapat merusak makanan kaleng adalah bakteri mesofilik  pembentuk spora, bakteri termofilik dan bakteri non-pembentuk spora.  2. Clostridium botulinum merupakan salah satu bakteri pembentuk spora yang  memproduksi toksin yang mematikan yang disebut botulin. Bakteri ini tumbuh  baik pada kondisi pH>4.6, suhu 30-37oC, anaerobik (tanpa oksigen/  vakum) dan aw>0.93. Tanah merupakan sumber utama spora bakteri C.  botulinum, sehingga spora terdapat pada hampir semua bahan mentah.  Spora C. botulinum sangat resisten terhadap pemanasan. Kondisi-kondisi  yang dapat menghambat pertumbuhan C. botulinum adalah dengan menurunkan  pH sehingga di bawah 4.6, menurunkan aw sehingga di bawah 0.85  dan penggaraman.  3. Makanan dengan pH>4.6 disebut makanan berasam rendah, dan di bawah  pH 4.6 disebut makanan asam. Semakin rendah pH makanan, pemanasan  yang diperlukan semakin ringan. Makanan asam rendah yang diasamkan  sampai pH 4.6 atau lebih rendah tidak memerlukan proses panas yang tinggi  tetapi pH harus dikontrol dengan benar.  4. Tanda-tanda kebusukan makanan kaleng oleh mikroba dapat dilihat dari (a)  penampakan abnormal dari kaleng (kembung, basah atau label yang luntur),  (b) penampakan produk yang tidak normal serta bau yang menyimpang; (c)  produk hancur dan pucat; dan (d) keruh atau tanda-tanda abnormal lain  Topik 6. Aspek Mikrobiologi Makanan Kaleng  11  pada produk cair.  5. Kebusukan karena bakteri seringkali menghasilkan kondisi kaleng yang  abnormal. Penyebab kebusukan makanan kaleng adalah incipient spoilage  (proses membiarkan terlalu lama makanan yang sudah dikemas sebelum  disterilisasi), kontaminasi setelah proses (karena kebocoran selama pendinginan  dengan air atau penanganan setelah sterilisasi), pemanasan yang  tidak cukup (ketidakcukupan panas pada titik terdingin), dan kebusukan  termofilik (ketidakcukupan pendinginan dan/atau suhu penyimpanan di atas  normal).  6. Beberapa indikasi kerusakan makanan kaleng oleh mikroorganisme adalah  flat sour, flippper, springer dan swell.  Daftar Pustaka  Fellows,P.J. 1992. Food Processing Technology: Principle and Practice. Ellis  Horwood, New York.  Hariyadi, P. (Ed). 2000. Dasar-dasar Teori dan Praktek Proses Termal. Pusat  STudi Pangan dan Gizi IPB, Bogor.  Singh,R.P. and Heldman,D.R. 2001. Introduction to Food Engineering. 3rd ed,  Academic Press, San Diego, CA.  Toledo,R.T. 1991. Fundamentals of Food Process Engineering. Van Nostrand  Reinhold, New York.  Valentas,K.J., Rotstein,E. Dan Singh,R.P. 1997. Handbook of Food Engineering  Practice. CRC Presss, New York.  Wirakartakusumah,M.A., Hermanianto,D., dan Andarwulan,N. 1989. Prinsip  Teknik Pangan. PAU Pangan  Topik 6. Aspek Mikrobiologi Makanan Kaleng  12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar